Penanggulangan HIV Sektor Konstruksi

Rola Play penggunaan Skrining HIV Mandiri pada pekerja
Rola Play penggunaan Skrining HIV Mandiri pada pekerja

Program HIV pada pekerja di sektor konstruksi Hazama Ando Wika Joint Operation

 

Pertemuan koordinasi Stakeholer
Pertemuan koordinasi Stakeholder

Keterlibatan Yayasan Kusuma Buana (YKB) dalam kegiatan Penanggulangan HIV di Bendungan Wonogiri dimulai sejak Tahun 2017. KemenPU akan memperkuat “overflow dikes downstream protection” di Bendungan Wonogiri. Kebijakan JICA mengharuskan adanya program pencegahan HIV & IMS di setiap proyek konstruksi (JICA Loan No. IP 1657). Kegiatan Penanggulangan HIV dilakukan karena Adanya hubungan antara proyek konstruksi dengan risiko HIV dan IMS berdasar fenomena 4 M yaitu Man Macho Mobile with Money. Proyek konstruksi ini akan merekrut sejumlah tenaga kerja yang mempunyai risiko tertular HIV dan IMS. Sehingga YKB akan melakukan serangkaian kegiatan rutin berbasis outreach dan inovasi program di lokasi proyek ataupun di masyarakat sekitar proyek serta WPA. Lokasi kegiatan yaitu Wonogiri, Jawa Tengah dengan sasaran program Pekerja Konstruksi Hazama Ando Wika Joint Operation (HAWJO).

Tujuan Program

Tujuan Penanggulangan HIV di proyek konstruksi HAWJO yaitu meningkatkan pemahaman pekerja terkait HIV dan IMS serta mencegah terjadinya infeksi HIV dan IMS pada pekerja.

Strategi Program

Strategi yang dilakukan YKB agar tujuan kegiatan tercapai yaitu melibatkan stakeholder terkait seperti Dinas Kesehatan, KPA, Kelurahan dalam setiap kegiatan. Stakeholder mempunyai peranan yang penting dalam program penanggulangan HIV. Harapannya program penangulangan HIV dapat berjalan bersinergi dengan kegiatan Dinas Kesehatan dan stakeholder terkait. YKB juga membentuk PLE (Peer Leader Educator) di dalam proyek, YKB melakukan pelatihan Peer Leader Educator (PLE) kepada pekerja. Pembentukan PLE diaharapkan dapat membantu Field Offcier (FO) dalam memberikan informasi kepada pekerja lainnya baik di lapangan atau di kosan tempat tinggal.

Dalam kegiatan ini, YKB juga melakukan pertemuan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan WPA dalam pemberian informasi kepada warga. WPA merupakan perpanjangan tangan YKB untuk turun langsung kepada masyarakat. Hasilnya WPA telah rutin melakukan penyuluhan kepada warga termasuk remaja terkait HIV. YKB juga Membantu Desa Pokoh Kidul dan Pondoksari melakukan advokasi untuk akses anggaran APBDes terkait program HIV. Sehingga sejak tahun 2018 WPA mendapatkan penganggaran dana setiap tahun untuk kegiatan HIV.

Kegiatan outreach (pemberian informasi) dilakukan Field Officer (FO) saat safety briefing dilapangan. Informasi yang diberikan bervariatif dan di kemas dengan menarik agar pekerja tertarik untuk mendengarkan.

Strategi untuk pemeriksaan HIV dengan melakukan skrining HIV Mandiri (SHM). Kegiatan SHM cukup membantu pekerja untuk melakukan test karena dapat dilakukan di kantor first aid dan tidak memerlukan waktu yang lama dengan hasil yang langsung didapatkan.

Kegiatan Donor darah juga rutin dilakukan setiap 3 bulan. Karena kegiatan donor darah dapat dilakukan pekerja di lokasi proyek. Sehingga pekerja tidak perlu keluar lokasi atau meninggalkan pekerjaan cukup lama.

Kegiatan yang sudah dilakukan

Pelatihan Peer Leader Educator
Pelatihan Peer Leader Educator

Baseline Survey dilakukan kepada pekerja untuk melihat pekerja yang sudah pernah mendapatkan informasi tentang HIV sehingga rencana program melihat kebutuhan dari hasil baseline survey. Kegiatan meeting setiap 3 bulan dengan stakeholder. Peer Leader Refreshing agar PLE update terkait informasi tentang HIV. Rapat koordinasi dengan Hazama Team termasuk konsultan rutin dilakukan. Kampanye dengan broadcast materi HIV dan IMS. Kegiatan Donor darah setiap 3 bulan bersama dengan PMI. Kegiatan donor darah diikuti oleh pekerja lapangan dan management. Skrining HIV Mandiri dilakukan di kontraka.  rapat koordinasi dengan Desa sekitar konstruksi (Pokoh Kidul dan Pondoksari) Penyediaan kondom untuk pekerja yang membutuhkan.PLE yang sudah dilatih melakukan kegiatan penyuluhan. Hari AIDS Sedunia sudah dilakukan.

Pencapaian dan Keberhasilan Program

Pencapaian dari program HIV di HAWJO yaitu terbentuknya 2 WPA yaitu WPA Pokoh Kidul dan WPA Pondok Sari yang saat ini bisa mengakses dana APBD dan setiap tahun dapat penganggaran dari APBDes. Selain itu, WPA juga telah melakukan kegiatan penyuluhan di masyarakat dengan sasarannya adalah remaja. Pencapaian selanjutnya yaitu terbentuknya PLE di HAWJO yang telah membantu pekerja mendapatkan informasi terkait HIV dan IMS. Di Wonogiri sebanyak 174 orang baik pekerja dan warga melakukan skrining HIV dengan menggunakan SHM dan Kegiatan donor darah yang rutin dilakukan.

Tentang Skrining HIV Mandiri (SHM)

Role Play alat Skrining HIV Mandiri kepada pekerja

Kegiatan SHM dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan September 2023 dengan sasaran Pada pekerja proyek konstruksi dan Masyarakat Umum. Sebelum melakukan SHM, YKB melakukan meeting stakeholder dengan melibatkan Dinas Kesehatan, Puskesmas setempat, KPA dan WPA sekaligus sosialisasi tentang SHM. Dalam pelaksanaannya WPA membantu kegiatan SHM pada masyarakat umum didampingi oleh field officer YKB. Sedangkan Field Officer melakukan SHM di proyek Konstruksi. Total alat SHM yang dipakai sebanyak 174 dengan hasil Non Reaktif (NR).

Acara Hari AIDS Sedunia

Talkshow pada Hari AIDS Sedunia (HAS 2023)
Talkshow pada Hari AIDS Sedunia (HAS 2023)

Kegiatan HAS dipelopori oleh WPA Pokoh Kidul dan Pondoksari. Dalam kegiatannya turut hadir Dinas Kesehatan dan PMI yang melakukan kegiatan Donor darah. Acara HAS 2023 dimulai dengan senam bersama. Kemudian dilanjutkan dengan acara talkshow yang melibatkan KDS Wonogiri, perwakilan PLE, KPA, perwaklan desa Pondoksari dan Pokoh Kidul, masyarakat dan pekerja HAWJO, dll. Kegiatan HAS Wonogiri diliput dan diterbitkan di Solopos.

Lesson Learn

Pentingnya improvisasi dalam pendekatan dan penyampaian materi kepada pekerja, karena dalam pelaksanaannya field officer mempunyai waktu yang sangat terbatas, sehingga harus bisa menyampaikan informasi yang dikemas dengan singkat dan tepat. PLE memanfaatkan tekhnologi seperti watshapp grup untuk memberikan informasi dikarenakan keterbatasan waktu sehingga perlu memanfaatkan tekhnologi sehingga informasi tetap bisa sampai kepada pekerja.

Field Offcier harus mempunyai informasi yang update tentang materi HIV dan IMS.WPA bisa mengakses dana APBDes setiap tahun untuk kegiatan WPA di lapangan sehingga kegiatan bisa terus berjalan.

Kendala/ Hambatan

Durasi program yang terpotong menyebakan kegiatan program harus terhenti sehingga menyebabkan pekerja yang sering breganti. Situasi lapangan yang krodit juga menghambat kegiatan pemberian informasi ketika safety briefing.

Rencana Tindak Lanjut

  1. Memperkuat WPA Pokoh Kidul dan Pondok Sari sebagai role model utk WPA yang lainnya yg ada di kab wonogiri
  2. Advokasi utk Memperkuat Kolaborasi PMI dan Dinkes dalam temuan kasus hasil skrining darah reaktif kususnya utk HIV dan IMS (shiphilis)
  3. Memperkuat Peer Leader utk tetap menjalankan peranannya dimana pun nanti mereka bekerja

Publikasi Lainnya

Acara Senam Bersama
GEBYAR PEDULI IBU HAMIL DAN KESEHATAN PEKERJA
Feature Image Post(15)
YKB Berpartisipasi STBP Tahun 2023
Feature Image Post(2)
Seminar Akhir dan Peluncuran Perdana Peraturan Bupati No. 116 Tahun 2023