Kisah Ayu Oktariani, ibu yang telah 17 tahun hidup dengan HIV dan mendampingi anak dengan HIV. Cerita tentang penerimaan diri, keluarga, dan tanpa stigma.
Hari ini, saat Hari Ibu bertepatan dengan momentum Hari AIDS Sedunia, kisah Ayu Oktariani menghadirkan makna yang lebih dalam tentang keteguhan, kejujuran, dan cinta tanpa syarat. Ayu adalah seorang perempuan yang hidup dengan HIV, seorang ibu, sekaligus pendamping bagi perempuan dan anak-anak yang menghadapi situasi serupa. Di balik perannya sebagai aktivis dan pendamping, Ayu adalah seorang ibu yang menjalani pengasuhan dengan kesadaran penuh—terutama ketika salah satu anaknya juga hidup dengan HIV.
Bagi Ayu, hidup dengan HIV bukan hanya soal mengelola kesehatan fisik melalui pengobatan yang teratur, tetapi juga tentang membangun hubungan yang sehat: dengan pasangan, keluarga, anak, dan dengan dirinya sendiri. Tema Hari AIDS Sedunia 2025, “Bersama Hadapi Perubahan: Jaga Keberlanjutan Layanan HIV”, menurut Ayu tidak bisa dilepaskan dari konteks keluarga. Keberlanjutan layanan HIV bukan hanya tentang ketersediaan obat, tetapi juga tentang keberlanjutan dukungan emosional, penerimaan sosial, dan ruang aman untuk bertumbuh—terutama bagi anak.
Ayu telah hidup sebagai Orang dengan HIV (ODHIV) selama kurang lebih 17 tahun. Perjalanan panjang ini membentuk cara pandangnya dalam memaknai kesehatan, relasi, dan pengasuhan. Pengalaman tersebut tidak hanya mengajarkannya tentang ketahanan pribadi, tetapi juga menegaskan bahwa penerimaan diri adalah fondasi utama untuk membangun hubungan yang jujur, keluarga yang aman, serta pola pengasuhan yang penuh empati—terutama ketika ia juga mendampingi anak yang hidup dengan HIV (ADHIV).

Penerimaan Diri sebagai Titik Awal
Pada awalnya, menerima diri bukanlah hal yang mudah bagi Ayu. Ada ketakutan, kebingungan, dan pertanyaan besar tentang masa depan. Namun seiring waktu, ia belajar bahwa HIV adalah bagian dari hidupnya—bukan keseluruhan identitasnya.
“Kalau aku sendiri belum menerima diriku, orang lain mau menerima seperti apa pun akan terasa berat,” ungkapnya.
Karena itu, Ayu memandang penerimaan diri sebagai langkah pertama sebelum membangun relasi dengan siapa pun. Saat seseorang mampu berdamai dengan dirinya, ia tidak lagi memulai hubungan dari rasa takut, tetapi dari kejujuran dan kepercayaan.
Pernikahan, Kejujuran, dan Kesepakatan Komunikasi
Dalam pernikahannya, Ayu dan suami membangun hubungan yang berlandaskan komunikasi terbuka. Keduanya sepakat untuk tidak memendam masalah dan rutin melakukan diskusi serta evaluasi hubungan.
Di satu sisi, kesibukan pekerjaan sering kali menjadi tantangan. Namun di sisi lain, kesadaran untuk terus berkomunikasi justru membuat hubungan mereka semakin kuat. Ayu menekankan pentingnya keseimbangan: berani mengekspresikan kemarahan, tetapi juga tidak lupa menyampaikan apresiasi.
Keputusan Ayu untuk terbuka tentang status HIV sejak awal hubungan merupakan bagian dari komitmen tersebut. Baginya, keterbukaan adalah bentuk tanggung jawab sekaligus penghormatan terhadap diri sendiri dan pasangan. Proses penerimaan dari keluarga besar pasangan pun dijalani dengan kesabaran, dialog yang konsisten, dan tanpa paksaan.

Menjadi Ibu: Relasi yang Dibangun dengan Cerita
Seiring berjalannya waktu, peran Ayu sebagai ibu semakin membentuk cara pandangnya tentang kehidupan. Ia memilih membangun kedekatan dengan anak-anaknya melalui aktivitas sederhana namun bermakna: membaca dan mendongeng.
“Mendongeng itu caraku membangun kepercayaan,” ujar Ayu.
Melalui cerita dan pertanyaan terbuka, anak-anak merasa aman untuk bertanya. Bahkan tentang topik-topik yang sulit dan sensitif. Ayu percaya bahwa kejujuran yang disampaikan dengan empati akan jauh lebih menenangkan daripada kebohongan yang dimaksudkan untuk melindungi.
Menjelaskan HIV kepada Anak dan ADHIV
Salah satu tantangan terbesar sekaligus terpenting bagi Ayu adalah menjelaskan konsep HIV kepada anak, termasuk kepada putrinya yang juga hidup dengan HIV. Ayu menggunakan pendekatan bertahap, sederhana, dan disesuaikan dengan usia anak.
Ia menggunakan ilustrasi ringan dan analogi yang mudah dipahami untuk menjelaskan bahwa HIV adalah kondisi kesehatan yang bisa dikelola. Ayu menekankan bahwa HIV bukan sesuatu yang memalukan dan tidak mengurangi nilai seseorang.
“Aku ingin anakku tumbuh dengan rasa bahwa dirinya utuh dan berharga,” kata Ayu.
Cara orang tua menjelaskan HIV, menurut Ayu, sangat berpengaruh terhadap bagaimana anak memandang dirinya sendiri. Ketika anak memahami kondisinya dengan cara yang manusiawi, penuh empati, dan tanpa stigma, ia akan lebih siap membangun penerimaan diri sejak dini.
ADHIV, Kejujuran, dan Kepercayaan
Dalam mendampingi anak yang hidup dengan HIV, Ayu menekankan pentingnya kejujuran yang dibangun di atas kepercayaan. Anak perlu tahu bahwa mereka boleh bertanya, merasa bingung, takut, bahkan marah. Semua emosi itu valid dan perlu ruang.
Ayu juga membantu anak memahami bahwa mereka tidak harus menceritakan status HIV-nya kepada semua orang. Anak berhak menentukan kepada siapa mereka ingin berbagi, dan orang tua berperan membantu membangun lingkar aman tersebut.
Pendekatan ini juga Ayu terapkan saat mendampingi anak-anak lain dengan HIV. Dari pengalamannya, intervensi dini, komunikasi terbuka, dan dukungan keluarga adalah kunci untuk membantu anak tumbuh dengan kepercayaan diri dan resiliensi.

Melawan Stigma dari Lingkup Terkecil
Bagi Ayu, keluarga adalah ruang pertama dan terpenting untuk melawan stigma. Jika keluarga mampu menjadi ruang aman, anak akan lebih kuat menghadapi dunia luar.
Stigma, menurut Ayu, tumbuh dari ketidaktahuan dan ketakutan. Sebaliknya, penerimaan tumbuh dari pengetahuan, empati, dan relasi yang sehat. Karena itu, ia mendorong orang tua untuk tidak menunda percakapan penting, meskipun terasa berat atau tidak nyaman.
Hari Ibu, Hari AIDS Sedunia, dan Harapan ke Depan
Di momentum Hari Ibu yang bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia, kisah Ayu adalah pengingat bahwa banyak ibu menjalani peran luar biasa dalam senyap. Ibu yang belajar menerima dirinya terlebih dahulu agar bisa mengajarkan penerimaan kepada anaknya. Ibu yang memilih kejujuran sebagai bentuk cinta. Ibu yang merawat harapan, bahkan di tengah tantangan hidup dengan HIV.
Bagi Ayu, menjadi ibu bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang hadir sepenuhnya—dengan kesadaran, keberanian, dan kasih sayang yang terus bertumbuh.
Di tengah upaya menjaga keberlanjutan layanan HIV, kisah Ayu menegaskan bahwa layanan yang paling bermakna adalah layanan yang memanusiakan: yang melihat individu sebagai manusia utuh dengan relasi, emosi, dan harapan. Dari keluarga, dari rumah, dan dari percakapan jujur—perubahan itu dimulai.