Program Penanggulangan HIV di Sektor Transportasi Darat: Membangun Kesadaran dan Akses Layanan bagi Para Pengemudi

 

Selama Januari hingga Juni 2025, Yayasan Kesehatan Buana (YKB) dengan dukungan pendanaan dari AIDS Healthcare Foundation (AHF) melaksanakan Program Penanggulangan HIV di sektor transportasi darat di DKI Jakarta. Program ini difokuskan pada kelompok pengemudi bus antar kota antar provinsi (AKAP), pengemudi angkutan umum, serta sopir truk bongkar muat. Kelompok pekerja dengan mobilitas tinggi dan memiliki tantangan tersendiri dalam mengakses layanan kesehatan.

Kegiatan dilaksanakan di sejumlah titik strategis, meliputi Terminal Kampung Rambutan, Pulo Gebang, Rawamangun, Kalideres, Terminal Bongkar Muat Tanjung Priok, serta beberapa pangkalan truk lainnya. Selama enam bulan pelaksanaan, program tidak hanya memberikan edukasi mengenai HIV, tetapi juga memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, pengelola terminal, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Menjangkau Ratusan Pengemudi

Program berhasil menjangkau sebanyak 227 orang dari kalangan pengemudi dan pekerja transportasi darat. Dari jumlah tersebut, 189 orang mengikuti tes HIV melalui layanan Mobile VCT yang diselenggarakan di lokasi kegiatan. Dari layanan Mobile VCT ditemukan 2 orang dengan hasil reaktif yang harus mendapatkan layanan lanjutan untuk mengakses ARV.

Selain layanan tes HIV, YKB juga memfasilitasi akses layanan pengobatan bagi dua Orang dengan HIV (ODHIV) agar dapat memperoleh layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) di puskesmas. Berbagai media komunikasi seperti video edukasi, standing banner, dan media sosial turut dimanfaatkan untuk memperluas penyebaran informasi mengenai pencegahan HIV.

Mengubah Persepsi Melalui Edukasi

 

 

Salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan program adalah masih kuatnya stigma terhadap HIV. Pada awal kegiatan, sebagian pengemudi menolak mengikuti tes. Sebagian khawatir karena dianggap memiliki perilaku berisiko oleh rekan kerjanya.

Namun melalui pendekatan yang persuasif dan edukatif, perlahan muncul perubahan sikap. Banyak peserta mulai memahami bahwa tes HIV merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan diri. Tes HIV bukan sebagai penilaian terhadap perilaku seseorang. Bahkan beberapa pengemudi secara sukarela mengajak rekan-rekannya mengikuti pemeriksaan karena menyadari pentingnya mengetahui status kesehatan sejak dini.

Program juga menemukan bahwa kebutuhan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV masih cukup tinggi. Setelah mengikuti penyuluhan, sejumlah peserta secara terbuka maupun pribadi meminta kondom sebagai bagian dari upaya melindungi diri dari risiko penularan.

Temuan yang Menjadi Pembelajaran

Selama program berlangsung, ditemukan dua kasus HIV. Meskipun jumlahnya relatif kecil, temuan ini memberikan gambaran bahwa risiko penularan HIV tetap ada di berbagai kelompok masyarakat, termasuk sektor transportasi.

Salah satu penerima manfaat mengaku telah mengetahui status HIV-nya, namun memilih menyembunyikan karena khawatir kehilangan pekerjaan apabila diketahui oleh rekan kerja. Melalui layanan konseling, tim YKB memberikan dukungan psikososial sekaligus mendorong kepatuhan terhadap pengobatan. Harapannya yang bersangkutan tetap dapat menjalani aktivitas dan bekerja secara produktif.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa tantangan penanggulangan HIV tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga dengan upaya mengurangi stigma dan diskriminasi di lingkungan kerja.

Tantangan Pelaksanaan Program

Selama kegiatan berlangsung, program menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya yaitu proses administrasi dan koordinasi yang cukup panjang untuk pelaksanaan layanan tes HIV. Adapun perbedaan karakteristik setiap terminal yang memengaruhi partisipasi peserta, serta variasi dukungan dari pengelola terminal.

Selain itu, durasi program yang hanya berlangsung selama enam bulan juga bertepatan dengan libur Hari Raya Idulfitri sehingga waktu pelaksanaan menjadi lebih terbatas. Meski demikian, dukungan aktif dari stakeholder terkait sangat membantu kelancaran kegiatan di lapangan.

Dampak Positif bagi Pekerja Transportasi

 

Pelaksanaan program memberikan berbagai dampak positif. Antara lain meningkatnya pengetahuan pengemudi mengenai HIV, cara penularan, serta langkah-langkah pencegahannya. Edukasi yang diberikan juga mendorong peserta untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri dan mengurangi perilaku berisiko.

Di sisi lain, program turut memperkuat perlindungan kesehatan bagi pekerja sektor transportasi melalui penyediaan akses layanan tes HIV, konseling, dan rujukan pengobatan. Upaya ini sejalan dengan pendekatan Three Zero, yaitu mewujudkan nol infeksi HIV baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

Komitmen untuk Melanjutkan Upaya Pencegahan

Menjelang berakhirnya program, berbagai pengelola terminal menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan. Tingginya antusiasme tersebut menunjukkan bahwa edukasi dan layanan kesehatan bagi pekerja transportasi masih sangat dibutuhkan.

Melihat antusiasme yang tinggi dari para pengelola terminal, YKB mendorong penguatan kolaborasi Pemerintah daerah. Melalui Dinas Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS bersama mitra potensial seperti perusahaan transportasi agar upaya pencegahan HIV di sektor transportasi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Melalui kerja sama lintas sektor, diharapkan semakin banyak pengemudi yang memiliki akses terhadap informasi, layanan kesehatan, dan dukungan yang diperlukan. Sehingga mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, aman, dan bebas stigma.

Publikasi Lainnya

Feature Image Post(7)
Pelatihan Peer Educator SMA Negeri 12 Jakarta: Mencetak Remaja Peduli, Berdaya, dan Siap Menjadi Agen Perubahan
Anggota CoP Awarenest EMpower Mengikuti Kegiatan GMHAF 2026
YKB di Global Mental Health Advocacy Forum 2026
Direktur Eksekutif YKB Ibu Dra Mundi Mahaswiati, S.H, M.M menyampaikan materi terkait TBC
Dorong Kesadaran Kesehatan Masyarakat Pulau Untung Jawa Melalui Edukasi HIV/AIDS, TBC, dan Stunting