Yayasan Kusuma Buana bekerja sama dengan Alumni SMA Negeri 12 Jakarta menyelenggarakan Pelatihan Peer Educator (PE) pada tanggal 13–14 April 2026. Kegiatan ini bertujuan membekali remaja dengan pengetahuan, keterampilan komunikasi agar mampu menjadi pendidik sebaya, sumber informasi yang tepercaya, serta agen perubahan positif di lingkungan sekolah.
Pelatihan diikuti oleh 20 siswa yang berasal dari OSIS, PMR, dan MPK. Selama dua hari, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai kesehatan reproduksi, kesehatan mental, HIV, serta isu-isu yang relevan dengan kehidupan remaja. Pelatihan ini menggunakan metode yang interaktif, seperti diskusi, simulasi, permainan edukatif, dan studi kasus.

Melalui pendekatan yang partisipatif dan menyenangkan, peserta tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, membangun empati, dan menjadi teman sebaya yang mampu memberikan dukungan serta informasi yang benar bagi lingkungan sekolah.
Membekali Remaja dengan Pengetahuan dan Keterampilan untuk Hidup Sehat
Kegiatan ini menghadirkan berbagai materi yang dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian remaja terhadap kesehatan diri. Melalui metode pembelajaran yang interaktif, seperti diskusi, permainan kelompok, studi kasus, simulasi, dan role play. Peserta didorong untuk aktif berdiskusi serta berbagi pengalaman.
Materi kesehatan reproduksi membahas perubahan fisik dan emosional pada masa pubertas. Bagaimana cara menjaga kesehatan reproduksi, serta pentingnya mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Peserta juga diajak memahami bahwa setiap perubahan pada masa remaja merupakan proses yang normal. Sehingga dapat mengurangi stigma dan rasa malu dalam membahas isu kesehatan reproduksi.

Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, dan bahaya penyalahgunaan NAPZA. Melalui studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, peserta belajar mengenali faktor risiko, menerapkan langkah pencegahan, serta menumbuhkan sikap empati dengan mengurangi stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).
Untuk mendukung peran sebagai pendidik sebaya, peserta juga dibekali keterampilan komunikasi dan etika bermedia digital. Berbagai simulasi membantu peserta mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif, menjadi pendengar yang baik, serta memberikan dukungan kepada teman sebaya.

Kegiatan ini juga mengangkat isu-isu yang relevan bagi remaja, seperti persetujuan (consent), child grooming, kekerasan dalam pacaran, kehamilan remaja, dan perundungan (bullying). Melalui diskusi dan studi kasus, peserta diajak mengenali situasi berisiko, menjaga batasan diri, menghormati orang lain, serta mengetahui cara mencari bantuan ketika diperlukan.

Sebagai pelengkap, sesi kesehatan mental memberikan pemahaman mengenai pengenalan dan pengelolaan emosi. Bagaimana strategi menghadapi tekanan (coping mechanism), serta pentingnya praktik self-care. Diharapkan, seluruh rangkaian materi ini dapat membekali peserta menjadi agen perubahan. Peserta mampu menyebarkan informasi kesehatan secara positif, membangun lingkungan yang aman, serta mendorong gaya hidup sehat di kalangan remaja.
Pelatihan Peer Educator Tingkatkan Pengetahuan dan Komitmen Remaja
Pelatihan Peer Educator di SMA Negeri 12 Jakarta memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata peserta meningkat dari 89,42 pada pre-test menjadi 95,81 pada post-test. Nilai terendah juga meningkat dari 74 menjadi 82. Capaian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang interaktif berhasil memperkuat pemahaman peserta.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diterapkan di lingkungan sekolah. Berbagai inisiatif yang dirancang meliputi edukasi kesehatan reproduksi dan kesehatan mental, kampanye anti-bullying, pemanfaatan media sosial sekolah sebagai sarana edukasi, pembuatan mading interaktif, serta kolaborasi kegiatan antara OSIS dan PMR.

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga terdorong untuk menjadi agen perubahan yang mampu menyebarkan informasi yang benar. Nantinya peserta bisa memberikan dukungan kepada teman sebaya, dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat, aman, dan peduli. Program ini menjadi wujud komitmen dalam membangun generasi muda yang berdaya, bertanggung jawab, dan siap membawa perubahan positif bagi masyarakat.